Puisi-puisi Rosak
1//.
"segeralah bangun!"
Cahaya bulan tiba-tiba saja ada disekitarnya. entah darimana ia menyelinap; menembusi ruang-ruang sedih.
2//.
sudah berapa lama, aku terkurung sendirian?
suara itu berlegar-legar; tak pernah lepas
difikirannya; tak pernah menembusi diluar pintu.
langit sudah semakin malam
bulan membentur sudut-sudut; tidak ada
pertanyaan lagi
yang keluar dari lelaki itu
5//.
"sini, aku menjemputmu pulang."
Hujan mempelawa.
perlahan angin menyelimuti lelaki itu
tidak ada setitis air mata yang jatuh; walaupun
ketika ia masih sedih
kemana? Tak ada yang tahu
tentang perjalanan selepas mati. Yang pastinya
sudah tertulis dalam kitab-kitab lama.
(pintu tak pernah terbuka; tapi lelaki itu sudah
pergi bersama hujan)
6//.
pukul tiga pagi
ruang Tuhan seketika sunyi
hanya ada beberapa kenderaan yang lalu; dikota-kota lain
kamu siapa? Lelaki tua itu bertanya setelah bunyi
ketukan pintu mengganggu tidurnya
lampu-lampu biru; sekitar empat kenderaan
dihadapan rumahnya
kami mendengar ada kematian
Lelaki tua itu kemudian menerangkan; dalam
keadaan sedih
tapi masih, tak ada air mata
"siapa yang mati?"
"hati."
7//.
ia suka menggambar
ingin menggambar wanita itu; tapi gagal selalu
di atas kertas putih, di atas kamera, di atas bahu
jalan,
di bilik sunyi, di beranda rumah, di tepi pantai;
semua sia-sia.
ia suka menulis puisi
ingin menulis puisi tentang wanita yang satu itu
meskipun akan sia-sia; ia merasa bahagia
setidaknya punya impian
meskipun tidak pernah ada harapan untuk
mendapatkan
8//.
dengan laju ia menarik dan menghembus
nafasnya
untuk melihat; bentuk-bentuk asing bergerakgerak kesana kemari
mengikut lagu yang dimainkan ketika sudah pagi
matahari melakukan rutinnya seperti biasa
pengemis-pengemis kota
orang-orang sibuk bekerja
dan beban-beban keluarga; masih ditempat
tidurnya
subuh tadi, tidak ada azan. Soalnya
azan selalu ada, cuma dia saja yang tak pernah
sedar
ia merasa kosong, sedang jiwanya sibuk
melenting-lenting
berangkatlah segera. Hanya itu jalannya
teruslah hidup; meskipun tidak berguna
9//.
disela-sela kepingan-kepingan cermin
yang tak lagi mengenalnya
ia membetulkan rambut panjangnya sambil
tersenyum
masih
membayangkan
tangan;
yang
membetulkan tali lehernya
cermin tak pernah menceritakan apapun
peristiwa yang pernah terjadi
subuh tadi ia bangun
sedar-sedar, rusuknya tak ada
sudah lama; tapi terasa seperti baru saja pergi
Ulasan
Catat Ulasan